Tawa Sendunya
Aku melihat seorang gadis manis di perempatan jalan yang masih sepi tepat di kaki gunung yang dingin. Di sana ia di peluk oleh matahari pagi yang menghangati. Ah, gadis itu berseragam sekolah. Dia diam dan sedikit tersenyum melihat bakul-bakul menjunjungi sayur segar. Tidak. Tapi aku telah menduga sendunya. Matanya tertangkap oleh mataku yang memerhatikan. Dia begitu menyedihkan.
Di satu malam yang bertabur bintang, aku tak sengaja melewati rumahnya yang gelap tanpa penerangan. Ah, mungkin dia tengah bepergian. Begitukah rupanya? Saat kemudian senja di keesokannya aku bersua dia, aku baru menyadarinya. Pada satu atap yang teduh ia menyembunyikan gundah gulana. Mencoba berdiri di atas air sukmanya yang tak berhenti menggenang.
Di dunianya, orang-orang riuh bertepuk. Bahagia untuk hampanya tanpa membayangkan menjadinya. Dan di dunia yang lain dialah dapatkan tawanya. Tawa sendunya. Yang bak tertawa dalam upaya meneguhkan hatinya. Bahwa daripadanya sebuah cahaya pun itu dari lentera, akan meneranginya. Mempermudah pandangannya di malam gulita.
Yogyakarta, 15 September 2015
AW Soekardi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar