Salam untuk Vita Marissa yang semoga selalu dalam kasih Tuhan,
Sepucuk surat tanpa dibawa oleh seekor merpati, ataupun tukang pos datang kepadamu. Dari seseorang yang mengagumimu dalam diamnya. Seorang anak kecil belum nalar di ranah antah berantah yang kaupun tidak akan tahu. Ini sepucuk surat tanda kecintaannya padamu. Tidak ada bongkahan emas didalamnya, melainkan untaian kata tak berharga.
Vita Marissa yang dikasihi semua orang,
Tidak ada lah sebuah kata yang lebih berharga dan sanggup aku ucapkan selain kata terimakasih kepadamu. Kepadamu yang telah berjasa untuk negeriku yang remeh ini. Kau mungkin memang ditakdirkan untuk ini, untuk menjadi pahlawan yang tiada orang menjangkau wanginya. Dari kecintaanmu di masa kecil, kau tumbuh dan sepenuhnya menasbihkan dirimu dalam dunia bulutangkis yang mungkin pada masa kau kecil menjadi primadona yang lekat pada masyarakat di negeri miskin teladan ini.
Kau pasti masih ingat sorak sorai seantero jagat terhadap pahlawan-pahlawan bulutangkis pada era ketika kau masih sangat lugu. Untuk apa kiranya kau ingin takdir membawamu kepada lelahnya berlatih, kepada banyaknya keringat yang bertetesan? Sedang negeri ini selamanya akan diam. Padahal jiwa-jiwa membara seringkali berapi-api membawa namanya.
Kini kau telah berusia. Tetapi, tanpa kau pedulikan lelah, kau masih mengayunkan raket cantikmu itu, masih mengusung saka di dadamu, meski negeri permai yang bobrok ini tiada akan peduli. Biarlah saja. Negeri ini memang begini adanya. Tiada akan sebuah embun memercikkan kesejukan untuk mereka-mereka yang telah habis berjuang, sepertimu. Negeri ini seringkali menutup matanya, bahkan sebelum senja tiba.
Bergembiralah saja, Vita. Bermain bulutangkislah tanpa memikirkan apa-apa lagi. Biarkanlah bulu-bulu angsa itu melayang dengan sendirinya. Tidak usahlah kau pedulikan lagi kemenangan untuk negeri yang katanya kaya ini. Sebab tiada sekeping emasmu terlihat berharga untuknya. Sebab para tuan-tuan di negeri ini sibuk dengan urusannya sendiri. Dengan persoalan yang tiada kunjung usai.
Vita Marissa, sang permata,
Bermainlah engkau dengan cinta. Cinta yang tiada mempersoalkan kemenangan disetiap laganya. Cinta yang tiada perlu mempersoalkan harga diri bangsa. Sebab negeri ini menutup telinganya. Tiada usahlah kau memikul beban berat lagi. Tiada perlu kau pikirkan lagi dia yang tidak peduli. Tutuplah telingamu terhadap cacian yang merendahkan, seperti negeri ini menutup matanya untuk jasa-jasamu.
Karna disinilah, anak kecil ingusan yang desir darahnya bagai telah mengalir bersama derap langkahmu dalam lapangan dengan lantang melontarkan meriam semangat dan meledakkan granat kecintaan untukmu. Tiadalah anak kecil ini sendirian, dibaliknya masih ribuan pasukan bergelora atas engkau! Berdecak kagum dengan penuh cinta dan meneriakkan nama engkau dalam kegembiraan hati kami.
Teruslah berjuang, Vita Marissa. Tidak peduli di luar ataupun di dalam lapangan. Bergembiralah saja engkau. Dari sini, dari ranah tak terjangkau ini, ribuan semangat bergelora dengan lantangnya! Melangkahlah bersama kami yang akan terus mencintaimu, mengagumimu dalam diam kami. Kami selalu berada disini, dibelakangmu walau engkau tidak tahu. Selalu bersama engkau walau sunyi senyap.
Sepucuk surat ini tiadalah mewakili siapa-siapa, melainkan surat ini sekali lagi hanyalah sebuah tanda kecintaan seorang anak kecil belum nalar kepada idolanya. Idola yang membuat remang tubuh kami disetiap laganya. Walaupun waktu tiada mempertemukan kami dengan engkau barang sekali saja, titip salam rinduku, untukmu Vita Marissa. Idola yang menginspirasiku. Idola yang membuatku berlipat-lipat bermetamorfosa menjadi anak kecil yang kuat, kuat dan hebat seperti engkau.
Terimakasih sang permata. Terimakasih Vita Marissa. Atas segala jasa dan tetesan-tetesan keringatmu untuk negeri yang katanya surga ini. Terimakasih telah menjadi inspirasi untuk dunia. Dan teladan negeriku, Indonesia.
[AW. Soekardi - 8/1/10]