Pagelaran Piala Sudirman 2013, bertempat di Stadion Putra,
Bukit Jalil, Malaysia menyisakan histeria luar biasa bagi para penikmat
sekaligus pecinta bulutangkis di tanah air. Pasalnya, mata kami (re : pecinta
bulutangkis) disajikan sebuah perjuangan hingga titik darah penghabisan oleh
pahlawan bulutangkis Indonesia.
Kami berbondong-bondong mematut diri di depan layar kaca
untuk melihat perjuangan pebulutangkis Indonesia. Jam tayang yang tepat pada
saat jam sekolah, membuat beberapa dari kami memutuskan untuk membolos. Pertandingan
ini kami sebut sebagai “Final Kepagian”, karena mempertemukan dua kekuatan
besar pada babak perempat final. Indonesia melawan China.
Sebelumnya, ketakutan menyelimuti kami pada saat malam
pengundian lawan. Kami berharap Indonesia tidak bertemu dengan China pada babak
ini, mengingat pada siang harinya, Indonesia baru saja dicukur gundul oleh
China dengan skor sempurna 0-5. Namun sayang, Indonesia nampaknya memang
berjodoh dengan China. Merupakan juara dan runner up dari grup yang sama, dan
harus bertemu pula pada babak perempat final.
Serentak kami menyatakan kekhawatiran pada kontingen garuda.
Namun, sebuah pernyataan dari manager tim Indonesia, Rexy Mainaky, yang
berbunyi “We’ll Stop China!” membangkitkan jiwa optimis kami. Kamipun mulai
berdoa dan mempercayakan semuanya pada pasukan bambu runcing.
Pasukan Garuda turun dengan strategi terbaik rancangan Rexy
Mainaky. Strategi yang tentu berbeda dengan strategi ketika dipecundangi China
sebelumnya. Kali ini Rexy memasang Butet (Liliyana Natsir) pada dua nomor,
yaitu Woman Double dan Mixed Double. Strategi ini jelas dimaksudkan agar partai
ganda campuran ditempatkan pada urutan pertama, sehingga peluang Indonesia
untuk mencuri poin secepatnya terbuka lebar.
Benar saja, melalui pertarungan yang luar biasa ketat dan
jatuh bangun di lapangan, pasangan Ganda Campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir
berhasil menumbangkan pasangan China Xu Chen/Ma Jin melalui rubber game. Partai
ini sarat akan nilai balas dendam atas kekalahan di Olimpiade beberapa waktu
lalu.
Indonesia juga berhasil mencuri poin dari pasangan ganda putra Angga
Pratama/ Ryan Agung yang berhasil menumbangkan jawara Olimpiade Cai Yun/Fu
Haifeng, melalui rubber game yang juga luar biasa.
Kami benar-benar larut dalam histeria mendukung tim
Indonesia hari itu. Segala ekspresi hadir pada hari itu. Kendati Indonesia
harus menelan kekalahan, namun perjuangan kemarin adalah suatu hal yang akan
terus diingat. Kekalahan sekaligus sejarah baru Indonesia karna gagal mencapai
semifinal, merupakan kekalahan pada titik awal kebangkitan perbulutangkisan Indonesia.
Kekalahan kemarin mungkin menghadirkan hujatan atau kekecewaan. Namun itu berlaku hanya untuk mereka yang tidak menonton perjuangan luar biasa pebulutangkis Indonesia. Mereka yang menyaksikan perjuangan kemarin, serentak memberikan standing ovation dan menyatakan, Kami Bangga! [AW. Soekardi]