Jumat, 15 Januari 2016

Wanita Yang Meringkuk di Sofa

Aku menulisnya sambil menangis pilu atas ratapan seorang wanita lugu yang tidur meringkuk di sofa kecil. Di luar hujan badai menerpa istana sempit yang tak dimilikinya. Ia menumpang hidup di tempat ibu tua yang sudah puluhan tahun menjanda. Aku mengenalnya betul. Wanita kecil itu seorang yang lugu, tak mengerti luasnya dunia, tak tahu apapun selain yang dihadapinya dan ia tak pandai seperti saudaranya. Hidup ia pun nestapa.

Ia sering kali menangis dalam diamnya. Hidup ia telah digadaikannya kepada seorang lelaki yang menjanjikannya istana penuh bahagia. Lelaki itu melakukan tipu daya yang sempurna. Ia mengatasnamakan cinta dan membuat wanita lugu itu tersiksa dalam hatinya. Anak lelakinya lahir dan tidak merubah apapun dihidupnya. Lelaki yang menjanjikannya banyak hal itu menganggur tak punya uang. Dia bekerja fajar hingga petang. Malampun ia meringkuk di sofa seperti biasanya.

Ia tahu kalau ia telah menceburkan diri ke dalam sumur tua yang tak berair. Dan ia akan mati di sana. Tiada udara untuk nafas kehidupannya. Tetapi dia tersenyum sekenanya. Ia tahu bahwa segalanya adalah kesalahan yang akan disesalinya. Hidup wanita lugu ini nestapa. Menderita tak terperi keadaannya. Dia yang meringkuk di sofa, tersenyum sekenanya.

Selasa, 15 September 2015

Untuk Gadis Manisku, di Tepi Jalan Itu

Tawa Sendunya

Aku melihat seorang gadis manis di perempatan jalan yang masih sepi tepat di kaki gunung yang dingin. Di sana ia di peluk oleh matahari pagi yang menghangati. Ah, gadis itu berseragam sekolah. Dia diam dan sedikit tersenyum melihat bakul-bakul menjunjungi sayur segar. Tidak. Tapi aku telah menduga sendunya. Matanya tertangkap oleh mataku yang memerhatikan. Dia begitu menyedihkan.

Di satu malam yang bertabur bintang, aku tak sengaja melewati rumahnya yang gelap tanpa penerangan. Ah, mungkin dia tengah bepergian. Begitukah rupanya? Saat kemudian senja di keesokannya aku bersua dia, aku baru menyadarinya. Pada satu atap yang teduh ia menyembunyikan gundah gulana. Mencoba berdiri di atas air sukmanya yang tak berhenti menggenang.

Di dunianya, orang-orang riuh bertepuk. Bahagia untuk hampanya tanpa membayangkan menjadinya. Dan di dunia yang lain dialah dapatkan tawanya. Tawa sendunya. Yang bak tertawa dalam upaya meneguhkan hatinya. Bahwa daripadanya sebuah cahaya pun itu dari lentera, akan meneranginya. Mempermudah pandangannya di malam gulita.

Yogyakarta, 15 September 2015
AW Soekardi

Rabu, 09 September 2015

Kau Harus Melihatnya.


Bagaimana teori bisa benar-benar menjelaskan realitas kehidupan? Tidak. Mereka tak memedulikannya. Tidak untuk sesuatu yang berbelit-belit karena mereka tidak ingin. Karena sepertinya mereka begitu 'ah sudahlah' dalam hidupnya.

Kau tahukah seberapa berat tiga ikat penuh ranting daun yang dibawa oleh punggung-punggung renta? Lalu mereka tidak lagi memikirkan beban-beban itu karena dalih terbiasa.

Pada suatu hari di nyaris senja hari, aku tiba di sebuah tempat yang kau mungkin tak berfikir bahwa daripadanya ada kehidupan penuh tawa. Oh, tentu saja di sana ada aru menjulang dan molek nian ia berdiri. Lalu membelahnya sungai tak berair. Dan itulah yang harus aku lewati untuk mencapai tawa tersembunyi. Lalu aku bertanya kepada diriku sendiri, "ah untuk apa aku jauh menyeberang ke sana." Tidak. Bukan berarti itu menyalahkan langkahmu yang telah jauh. Kau hanya perlu melihatnya.

Sebuah tempat dimana kau akan tahu bagaimana dirimu dalam reinkarnasimu sendiri. Di sanalah kau akan membalikkan badanmu dan mengerti bagaimana kau harus menyingkirkan keangkuhan jiwamu yang miskin tak terperi. Di tempat itulah konon kau akan lekas mengerti bahwa selama ini kau hidup di dunia yang benar bedanya.

Yogyakarta, September 2015.
AW Soekardi.

Senin, 07 September 2015

Ingatlah Dia, Dia yang Kau Telah Lupa.

Gelap Gemerlap

Satu
Kini sebuah boneka
Penuh dusta
Menghamba pada gelap gemerlap
Membuang muka pada akhirat

Dua dua
Satu yang diduakan
Dia yang dilupakan
Kekasih yang hilang dari hati
Kini terganti
Gelap gemerlap

Gelap
Semuanya akan gelap
Bila menghamba pada gemerlap
Bila tiada ingat akan hakikat
Kekasihmu yang terlupa
Kekasihmu yang sia-sia

Ingat!
Ingatlah Kekasihmu
Dengan berlutut padanya
Sujud penuh doa dan menghamba
Dengan silang kedua tangan di dada

Manjakanlah dia
Dengan nyanyian merdu penuh puja
Dengan belaian lembut sujud kita
Kekasih yang terlupa
Kekasih yang selalu ada
Kekasih yang mencintai kita.

Untuk Dia, Lelaki Renta dan Tawa Bahagianya.

Tawa Tanpa Suaranya

Aku terpana melihatnya
Seorang lelaki yang renta
Menghirup kopi di gelas kaca
Duduk bersila melambaikan tangannya
Siapa gerangan anak paruh baya
Tersenyum mencium telapaknya
Demi baktinya
Tua renta itu dulunya perwira
Yang tersenyum tiada bunyinya
Dia yang sering tertawa
Tertawa disertai air matanya
Tawanya tiada bersuara
Anaknya besar didekapannya
Ia sebatang kara
Ia tertawa tanpa suara
Pasir tanah berlalu sudah
Tulangnya rapuh ototnya lumpuh
Namun hidup ia tangguh
Tua renta sang perwira
Yang tertawa tanpa suara

Menggantung Asa, Di Beda Dunia.

Yogyakarta Akankah Kau Hijrahku

Goda berkilau wajahmu
Molek nian tubuhmu
Tuntunku datang menyentuh
Melepas asa teduh
Istana nan istimewa
Wajah pelita tak padam jua
Bertasbih takkan sia.
Menetap melabuhkan harap
Meninggalkan demi doa
Sukmamu melekat kuat
Menyentuh arogansi nan dahsyat
Tiada lekang akan melangkah
Bila menyentuh tubuhmu hilangkan lelah
Yogyakarta, bilakah kau hijrahku ...
Akan tinggal lah daku
Yogyakarta, kau kah hijrah itu?

Denpasar, Mei 2015
AW Soekardi

Dia Diam, Namun Menyaksikan.

AKU SAKSINYA

Di kala semburat merah senja menerpa tubuhku,
dahulu itu
Lalu seorang paruh baya
dengan wajah lelahnya melewatiku
Menerobos masuk ke dalam ragaku
Disambutlah ia oleh bidadarinya
Diiringilah ia oleh anak lelakinya
Dengan piano tua di pelupuk mata
Aku menyaksikan dan tersenyum

Di senja keesokan harinya ...
Tubuhku telah berlumut menanti si paruh baya
Ia tak kembali lagi
Bidadari pergi tak jua kemari
Sang anak bermain sendiri
Ditemani derit ambang mulutku yang tak peduli
Akulah saksinya
Yang melihat segala sesuatunya
Yang melihat tawa bahagia yang kulingkupi sendiri
Akulah penjaganya
Yang memagari tawa canda mereka
Akulah saksinya
Yang melihat waktu membawa semuanya

Magelang, 1 Agustus 2015