Aku menulisnya sambil menangis pilu atas ratapan seorang wanita lugu yang tidur meringkuk di sofa kecil. Di luar hujan badai menerpa istana sempit yang tak dimilikinya. Ia menumpang hidup di tempat ibu tua yang sudah puluhan tahun menjanda. Aku mengenalnya betul. Wanita kecil itu seorang yang lugu, tak mengerti luasnya dunia, tak tahu apapun selain yang dihadapinya dan ia tak pandai seperti saudaranya. Hidup ia pun nestapa.
Ia sering kali menangis dalam diamnya. Hidup ia telah digadaikannya kepada seorang lelaki yang menjanjikannya istana penuh bahagia. Lelaki itu melakukan tipu daya yang sempurna. Ia mengatasnamakan cinta dan membuat wanita lugu itu tersiksa dalam hatinya. Anak lelakinya lahir dan tidak merubah apapun dihidupnya. Lelaki yang menjanjikannya banyak hal itu menganggur tak punya uang. Dia bekerja fajar hingga petang. Malampun ia meringkuk di sofa seperti biasanya.
Ia tahu kalau ia telah menceburkan diri ke dalam sumur tua yang tak berair. Dan ia akan mati di sana. Tiada udara untuk nafas kehidupannya. Tetapi dia tersenyum sekenanya. Ia tahu bahwa segalanya adalah kesalahan yang akan disesalinya. Hidup wanita lugu ini nestapa. Menderita tak terperi keadaannya. Dia yang meringkuk di sofa, tersenyum sekenanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar